Letusan Gunung Tambora Tahun 1815
Disusunoleh :
1. Anindya Suryawati (16/X MIPA 1)
2. Apriani Nur Raina (19/X MIPA 1)
SMA NEGERI 1 GEMOLONG
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Halaman Pengesahan
LETUSAN GUNUNG TAMBORA DI SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT
Disusun Oleh :
1) Apriani Nur Raina 2) Anindya Suryawati
(...............................) (.................................)
Disahkan Oleh :
Guru pengampu,
( Sutono, S. Pd )
NIP..............................
Halaman Persembahan
Karya tulis ini kami susun tidak hanya untuk memenuhi tugas mata pelajaran Geografi Tahun Pelajaran 2016/2017, tetapi juga sebagai sarana untuk menambahwawasan dan pengetahuan serta lebih mencintai keindahan alam negara kita salah satunya adalahPulau Sumbawa.Maka kami ucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Drs. Marsono selaku kepala sekolah SMA Negeri Gemolong yang telahmemberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan karya tulis kami.
2. Bapak Jumadi S.Pd selaku wali kelas kami
3. Bapak Sutono S.Pd. selaku guru Geografi kami yang telahmemberikan pengarahan dalam penyusunan karya tulis ini.
4. Bapak dan Ibu Guru pembimbing yang telah membimbing kami selama penulisan karya tulis ini.
5. Semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan karya tulis inisehingga karya tulis ini dapat terselesaikan dengan baik
Kami berharap dengan selesainya karya tulis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya diri kami sendiri. Semoga karya tulis ini dapat menambahwawasan dan pengetahuan serta lebih mencintai keindahan alam Negara Indonesia.
Halaman Motto
1. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyirah,6-8)
2. Memulai dengan penuh keyakinan. Menjalankan dengan penuh keikhlasan. Menyelesaikan dengan penuh kebahagiaan
3. "Pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk merubah dunia" (Nelson Mandela)
4. "Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-mujadilah 11)
5. Jadilah seperti karang di lautan yang tetap kokoh diterjang ombak, walaupun demikian air laut tetap masuk kedalam pori-porinya.
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah yang berjudul "Sejarah Letusan Gunung Tamboradan Efeknya Terhadap Kehidupan Masyarakat Disekitarnyadan Dunia". Selama pembuatan makalah pun kami juga mendapat banyak dukungan dan juga bantuan dari berbagai pihak, maka dari itu kami haturkan banyak terima kasih kepada :
1. Bapak Drs. Marsono selaku kepalaSMANegeri 1 Gemolong, yang memberikan bimbingan, saran, dan juga ide.
2. Bapak Sutono S.Pd selaku guru Geografi kami, yang memberikan dorongan, dan juga masukan kepada penulis.
3. Bapak Jumadi S.Pd selaku wali kelas kami, yang banyak memberikan materi pendukung, masukan, dan bimbingan yang bermanfaat kepada penulis.
4. Bapak dan Ibu Guru pembimbing yang telah membimbing kami selama penulisan karya tulis ini.
5. Semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan karya tulis inisehingga karya tulis ini dapat terselesaikan dengan baik
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari para pembaca yang budiman sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini kedepannya. Terima kasih.
Gemolong, 10 November 2016
Penulis
Abstrak
Indonesia adalah negara kepulauan yang terletak di persimpangan empat lempeng tektonik, yaitu Pasifik, Eurasia, Filipina, dan Australia. Dengan aktivitas seismik dan aktivitas gunung berapi yang konstan di antara lempeng-lempeng, wilayah ini merupakan bagian dari Cincin Api Pasifik. Gunung berapi yang aktif dan terkenal lainnya di Indonesia salah satunya adalah Gunung Tambora.
Gunung Tambora terbentuk karena kebocoran zona subduksi aktif dalam dapur magma di dalam gunung. Sebelum letusan pada 1815, Gunung Tambora adalah gunung berbentuk kerucut dengan 14.000 meter tingginya dan membuatnya menjadi salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan 1815, terbentuk kawah (kaldera) dengan diameter 4 mil dengan kedalaman 3.640 meter.
Gunung Tambora, gunung berapi aktif di selatan tengah Indonesia, di lengan utara pulau Sumbawa dan terletak di tengah-tengah Kepulauan Melayu. Pada 5 April 1815, Gunung Tambora meletus dan merupakan pengamatan letusan gunung berapi terbesar dalam dua abad terakhir.
Kata Kunci : Lempeng tektonik, aktivitas seismik, gunung berapi, lempeng-lempeng, zona subduksi aktf, cincin api pasifik, dapur magma, gunung, kawah (kaldera).
Daftar Isi
Halaman Judul..........................................................................................................................
Halaman Pengesahan................................................................................................................
Halaman Persembahan.............................................................................................................
Halaman Motto.........................................................................................................................
Kata Pengantar..........................................................................................................................
Abstrak.....................................................................................................................................
Daftar Isi...................................................................................................................................
BAB I : Pendahuluan...................................................................................................
1. Latar Belakang..............................................................................................................
2. Rumusan Masalah.........................................................................................................
3. Tujuan Penelitian..........................................................................................................
BAB II : Kajian Pustaka................................................................................................
1. Sejarah letusan Gunung Tambora.................................................................................
2. Letusan Gunung Tambora masauk skala kedua pada skala VEI..................................
BAB III : Metode penelitian...........................................................................................
BAB 1V : Hasil penelitian dan pembahasan....................................................................
1. Tinjauan umum tentang Gunung Tambora..................................................................
2. Proses meletusnya Gunung Tambora tahun 1815.........................................................
3. Keadaan masyarakat sebelum dan sesudah Gunung Tambora meletus........................
4. Dampak dari meletusnya Gunung Tambora................................................................
5. Akibat erupsi dahsyat....................................................................................................
BAB V : Kesimpulan dan saran.....................................................................................
Daftar Pustaka...........................................................................................................................
Lampiran-lampiran...................................................................................................................
1
2
3
4
5
6
7
8
8
9
9
10
11
13
14
14
15
17
19
21
24
25
26
27
BAB I : PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Di nusantara adalah salah satu wilayah yang terdapat banyak gunung merapi dan sering menimbulkan bencana bagi masyarakat atau mahluk hidup yang terdapat di wilayah tersebut. Salah satunya adalah gunung tambora yang pernah meletus beberapa puluh tahun yang lalu.
Gunung Tambora adalah salah satu gunung yang terletak di pulau Sumbawa dan sekarang berada di wilayah Bima,selain sebagai gunung api, gunung tambora juga memiliki panorama yang cukup indah.
Menurut cerita Gunung Tambora ada dua versi yaitu, pertama berasal dari kata lakambore dari Bahasa Bima yang berarti mau kemana. Kedua, berasal dari kata ta dan mborata yang berarti mengajak dan kata mbora yang berarti menghilang, jadi arti kata tambora yaitu mengajak menghilang.
Gunung ini berada di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Daerah ini dapat dijangkau dengan menggunakan pesawat udara dari Mataram, Lombok sekitar 1 jam menuju Bima. Dari Bima dapat ditempuh melalui darat menuju Dompu sekitar 60 km. Dari Dompu ke Kore berjarak 100 Km. Dari sini dengan speedboat menuju Labuhan Bili, dapat ditempuh sekitar 3 jam.
Pendakian menuju puncak untuk mencapai kaldera puncak gunung ini pendaki dapat memulai pendakian dari arah barat laut dimulai dari Labuan Kenanga. Dari tempat ini sampai ke Perkebunan Kopi Tambora yang letaknya berjarak 15 km. Keluar dari komplek perkebunan perjalanan terus melalui jalan setapak. Pendakian dari Perkebunan Kopi Tambora sampai ke puncaknya memakan waktu bervariasi tergantung jalur yang diambil selama perjalanan. Selain dari Labuan Kenanga pendakian menuju puncak gunung ini dapat pula dilakukan dengan menggunakan lereng timur gunung dimulai dari Oi Sengari. Dan jalur Selatan gunung ini pernah pula didaki oleh van Rheden seorang ahli Geologi mengatakan Binatang yang hidup di sekitar Gunung Tambora adalah rusa, babi hutan, sapi liar, kerbau, monyet,biawak, musang, kura-kura, berbagai jenis burung seperti kakaktua kepala putih, nuri merah, ayam hutan, gagak, dll.
Meletusnya Gunung Tambora pada 5 April 1815 dengan sangat dasyatnya hingga menewaskan sekitar 92.000 orang. Sekitar tiga tahun sebelum letusan penduduk Sanggar telah melihat adanya kegiatan yang sangat tinggi dari Gunung ini. Karena kedasyatannya hingga tercatat dalam sejarah dunia. Menurut Muslimin Hamzah dalam bukunya Ensiklopedia Bima kekuatan letusannya bahkan 10 kali kekuatan bom atom di Hiroshima.
Suara letusan gunung ini terdengar sampai ke Jakarta (1250 km) dan Ternate (1400 km). Hujan abu pertama jatuh di Besuki, Jawa Timur. Pada 10 dan 11 April 1815, suara letusan Gunung Tambora terdengar sampai ke Pulau Bangka (1500 km) dan Bengkulu (1775 km) dan gempa bumi yang terjadi bersamaan dengan letusan gunung ini terdengar sampai ke Surabaya (600 km).
Dengan meletusnya Gunung Tambora keadaan masyarakat Bima khususnya penduduk yang bertempat tinggal disekitar kawasan Gunung Tambora berubah drastis dan kesejahteraan yang dibangun mulai runtuh,tanah yang semula subur, kemudian tidak dapat ditanami selama lima tahun membuat kelaparan serta kemelaratan berkepanjangan.
2. Rumusan Masalah
a) Jelaskan tentang tinjauan umum Gunung Tambora ?
b) Bagaimana proses meletusnya Gunung Tambora ?
c) Bagaimana keadaan masyarakat sebelum dan sesudah Gunung Tambora meletus ?
d) Apa dampak dari meletusnya Gunung Tambora ?
e) Apa akibat erupsi Gunung Tambora ?
f) Apa efek dari Gunung Tambora ?
3. Tujuan Penelitian
a) Mengkaji karakteristik Gunung Tambora
b) Mengevaluasi faktor/penyebab terjadinya letusan Gunung Tambora
c) Menganalisis dampak letusan Gunung Tambora terhadap kondisi fisik dan sosial di area sekitar Gunung
BAB II : Kajian Pustaka
Sejarah Letusan Gunung Tambora
Dengan menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, dinyatakan bahwa gunung Tambora telah meletus tiga kali sebelum letusan tahun 1815, tetapi besarnya letusan tidak diketahui.Perkiraan ketiga letusan Tambora:
1. Letusan pertama: 39.910 sebelum masehi, selama ± 200 tahun
2. Letusan kedua: 3.050 sebelum masehi.
3. Letusan ketiga: 740 sebelum masehi, selama ± 150 tahun.
Ketiga letusan tersebut memiliki karakteristik letusan yang sama. Masing-masing letusan memiliki letusan di lubang utama, tetapi terdapat pengecualian untuk letusan ketiga. Pada letusan ketiga, tidak terdapat aliran piroklastik.
Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815.Besar letusan ini masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter kubik.Letusan Gunung Tambora merupakan letusan gunung terdahsyat sepanjang masa yang pernah tercatat pada era modern.Karakteristik letusannya termasuk letusan di lubang utama, aliran piroklastik, korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera.
Letusan ketiga ini mempengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal 15 Juli 1815.Pada saat gunung Tambora meletus, daerah radius kurang lebih 600 km dari gunung Tambora gelap gulita sepanjang hari hampir seminggu lamanya.Letusan yang terdengar, melebihi jarak 2000 km dan suhu Bumi menurun hingga beberapa derajat yang mengakibatkan bumi menjadi dingin akibat sinar matahari terhalang debu vulkanis selama beberapa bulan.
Sehingga berdampak juga ke daerah Eropa & Amerika Utara mengalami musim dingin yang panjang.Sedangkan Australia dan daerah Afrika Selatan turun salju di saat musim panas.Peristiwa ini dikenal dengan “The year without summer” atau tahun tanpa musim panas.
Aktivitas selanjutnya kemudian terjadi pada bulan Agustus tahun 1819 dengan adanya letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai gempa susulan yang dianggap sebagai bagian dari letusan tahun 1815.
Letusan ini masuk dalam skala kedua pada skala VEI.
Sekitar tahun 1880 (± 30 tahun), Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera. Letusan ini membuat aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.
Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20.Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967, yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.
Total volume yang dikeluarkan Gunung Tambora saat meletus hebat hampir 200 tahun silam mencapai 150 kilometer kubik atau 150 miliar meter kubik. Deposit jatuhan abu yang terekam hingga sejauh 1.300 kilometer dari sumbernya.
Peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Igan Supriatman Sutawidjaja, dalam tulisannya, ”Characterization of Volcanic Deposits and Geoarchaeological Studies from the 1815 Eruption of Tambora Volcano”, menyebutkan, distribusi awan panas diperkirakan mencapai area 820 kilometer persegi.Jumlah total gabungan awan panas (piroklastik) dan batuan totalnya 874 kilometer persegi. Ketebalan awan panas rata-rata 7 meter, tetapi ada yang mencapai 20 meter.Letusan Tambora memang dahsyat, bahkan terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah manusia modern.
Magnitudo letusan Tambora, berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI), berada pada skala 7 dari 8, hanya kalah dari letusan Gunung Toba (Sumatera Utara), sekitar 74.000 tahun lalu, yang berada pada skala 8.
Jumlah korban tewas akibat gunung ini sedikitnya mencapai 71.000 jiwa tapi sebagian ahli menyebut angka 91.000 jiwa.Sebanyak 10.000 orang tewas secara langsung akibat letusan dan sisanya karena bencana kelaparan dan penyakit yang mendera.Jumlah ini belum termasuk kematian yang terjadi di negara-negara lain, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, yang didera bencana kelaparan akibat abu vulkanis Tambora yang menyebabkan tahun tanpa musim panas di dua benua itu.
BAB III : Metode Penelitian
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan keruangan
B. Sumber Data
Seluruh data bersumber dari internet (google) dan dari website Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan RI
C. Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi yang berbentuk catatan, surat kabar, dan arsip
D. Analisis Data
Data-data dianalisis menggunakan metode analisis data dan kuantitatif
BAB IV : Hasil Penelitian Dan Pembahasan
Gunung Tambora, Pulau Sumbawa Indonesia
Letusan Terakhir : Start, 10 April 1815 – Erupt, 17 April 1815.
Muntahkan Magma : 100 km³.
Lepasan abu (kubik) : 400 km³ debu ke angkasa.
Tinggi abu : 44 km dari permukaan tanah.
Lontaran abu : 1300km.
Radius suara letusan : 2600 km
Endapan aliran piroklastik : 7-20m
Tsunami sepanjang pantai : sejauh 1200km, tinggi 1-4m, di Maluku Tsunami hingga 2 meter
Korban letusan langsung : 117.000 korban jiwa.
Kerajaan yang lenyap akibat letusan: Kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar.
a) Tinjauan Umum Tentang Gunung Tambora
Gunung Tambora adalah gunung berapi aktif yang berdiri tegak di Pulau Sumbawa, yang juga bagian dari kepulauan Nusa Tenggara Barat. Karena bentukan Gunung Tambora oleh Zona Subduksi dibawahnya, sehingga bisa meningkatkan ketinggian puncaknya mencapai 4.300 m dpl, dan dipastikan sebagai salah satu puncak gunung yang tinggi di seluruh nusantara setelah Puncak Jaya (Carstensz Piramid 4884 m dpl), namun ini terjadi sebelum bulan April 1815 sebagai puncak meletusnya gunung Tambora dengan skala letusan mencapai angka tujuh.
Secara administratif Gunung Tambora terletak diantara dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut), dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur sampai barat laut Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan garis koordinat tepatnya pada 8°15' LS dan 118° BT). Disamping kalangan wisatawan dan pendaki gunung yang menikmati panorama dan pesona alam unik, Gunung Tambora juga masih dipantau aktifitasnya secara rutin oleh ahli gempa dan Vulcanologist, Gunung Tambora juga menarik minat untuk studi Arkeologi dan Biologi.
Kata Tambora sendiri mempunyai dua versi, yang pertama yang berasal dari kata Lakambore - Bahasa Bima yang artinya "Mau Kemana?", kalimat pertanyaan kepada seseorang yang hendak bepergian. Versi kedua berasal dari dua kata Ta dan Mbora juga dari bahasa Bima, ta yang berarti mengajak dan mbora yang artinya menghilang, sehingga secara keseluruhan berarti mengajak menghilang.
Ada tiga titik konsentrasi desa-desa yang berada di sekitar lereng Gunung Tambora. Disebelah timur adalah desa Sanggar, ke arah laut adalah desa Doro Peti dan desa Pesanggrahan, dan di barat adalah desa Calabai. Ada dua jalur pendakian untuk mencapai kaldera. Rute pertama dimulai dari desa Doro Mboha di tenggara gunung. Rute ini mengikuti jalan beraspal melalui mete perkebunan hingga mencapai 1.150 meter (3,800 kaki) di atas permukaan laut. Akhir dari rute ini adalah bagian selatan kaldera pada 1.950 meter (6.400 kaki), dapat dicapai melalui jalur hiking. Lokasi ini biasanya digunakan sebagai base camp untuk memantau aktivitas gunung berapi, karena hanya dalam waktu satu jam untuk mencapai kaldera. Rute kedua dimulai dari desa Pancasila di barat laut gunung. Dengan menggunakan rute kedua, maka kaldera hanya dapat diakses dengan berjalan kaki.
b) Proses Meletusnya Gunung Tambora Tahun 1815
Banyak sebagian dari yang belum ketahui kalau Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api yang tinggi di Nusantara. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada April 1815. Ketika itu puncak Gunung Tambora mencapai ketinggian sekitar 28.300 meter di atas permukaan laut, selain sebagai salah satu gunung api yang tinggi, Gunung Tambora juga pernah tercatat sebagai salah satu gunung yang tinggi juga di Indonesia saat ini sebelum gunung tersebut meletus, usai Tambora meletus hebat, daratan di bagian puncak itu dimuntahkan ke berbagai arah. Akibatnya, ketinggian gunung api yang masih tersisa tinggal setengahnya, yakni sekitar 2.851 m dpl.
Letusan Tambora disebabkan oleh magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusan gunung api tambora merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah “erupsi”, hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan zona kegempaan aktif yang berhubungan dengan batas lempeng.
Letusan yang amat mengerikan itu juga menyisakan sebuah kaldera yang sangat besar.Bahkan, menurut catatan, ukuran kaldera tersebut paling luas di Indonesia. Bayangkan, kaldera tersebut memiliki diameter sekitar 3.500 km, panjang maksimal 4.000 km, dan kedalaman 950km.
Tragedi itu bermula pada awal April 1815.Ketika itu kawasan di sekitar Gunung Tambora mulai bergetar. Getaran itu semakin menguat pada 5 April 1815 bersamaan dengan suara letusan yang terdengar menggelegar keras keangkasa, kemudian letusan mencapai proksima pada 10 sampai 12 April 1815 yang meluluh-lantahkan masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Tambora.
Letusan yang sangat dashyat terjadi pada tanggal 10 April 1815 sekitar pukul 19.00 waktu setempat. Sejak saat itu hingga lima hari, ledakan Gunung Tambora mencapai klimaksnya.Pada malam hari, dari kejauhan Tambora memang benar-benar terang benderang lantaran api yang terus memancar dari puncak gunung tersebut. Suasananya sangat mencekam. Gunung itu seolah berubah menjadi aliran api yang sangat besar.Pada saat bersamaan, letusan itu juga memuntahkan gas panas, abu vulkanik, dan batu-batu ke bawah sejauh 20 km hingga ke laut. Desa-desa di sekitar Tambora pun musnah dilalap aliran piroklastik tersebut
Letusan Gunung Tambora juga membawa material longsoran yang sangat besar ke laut.Longsoran itu menimbulkan tsunami di berbagai pantai di Indonesia seperti Bima, Jawa Timur, dan Maluku.Ketinggian tsunami tersebut ditaksir mencapai 4 meter.Bukan hanya itu, ledakan dahsyat tersebut juga menebarkan abu vulkanik hingga ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.Bahkan bau nitrat juga tercium hingga ke Batavia (kini Jakarta).Hujan besar disertai jatuhnya abu juga terjadi.
Menurut Haris Firdaus dalam bukunya berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008), tiga kerajaan kecil hangus dan hancur terkena lahar dan material letusan Gunung Tambora.Ketiga kerajaan itu adalah Pekat yang berjarak sekitar 30 km sebelah barat dari Tambora. Lalu, Kerajaan Sanggar berjarak 35 km sebelah timur Tambora, dan Kerajaan Tambora berjarak 25 km dari gunung tersebut.
Letusan Gunung Tambora itu terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar dan Ternate sejauh 2.600 km. Abunya juga diterbangkan sejauh 1.300 km dengan ketinggian 44 km dari permukaan tanah. Volume debu ditaksir mencapai 400 km3.Saking tebalnya debu-debu yang berterbangan di langit, sepanjang daerah dengan radius 600 km dari gunung tersebut terlihat gelap gulita selama dua hari.Maklum, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya abu-abu tadi.Daerah paling menderita tentu saja yang berdekatan dengan lokasi Gunung Tambora.
c) Keadaan masyarakat sebelum dan sesudah gunung tambora meletus
Sekitar tahun 1400, orang- orang Jawa memperkenalkan cara bertanam padi di sawah dan mulai mengimpor kuda. Semakin lama jumlah penduduk berkembang.Orang mengandalkan hidup terutama dari beras, kacang hijau dan kuda.Sementara dari perkebunan orang mengandalkan kopi, lada dan kapas yang bisa tumbuh subur.
Di kawasan itu telah terdapat pula hubungan dagang.Pada masa itu Kerajaan Bima umumnya terbuka dari dunia luar.Dari segi ekonomi, perniagaan merupakan penghasilan utama dengan komoditas ekspor utama sebelum 1815 ialah beras, madu, kapas dan kayu merah. Setelah Tambora meletus, kesejahteraan yang terbangun itu runtuh.
Masyarakat Bima khususnya masyarakat yang berada disekitar Gunung Tambora dalam kesehariannya melakukan aktifitas bertani, beternak, berdagangserta berladang, dengan demikian keadaan masyarakat sebelum meletusnya Gunung Tambora sudah bisa dikatakan sejahtera, karena masyarakat sudah dapat mengekspor hasil pertanian ataupun hasil lading serta hasil ternak mereka.
Setelah letusan, keadaan di sekitar Tambora terutama di Bimapun berbalik.Tanaman pertanian masyarakat tidak dapat dipanen dan mengalami kerugian yang cukup banyak serta membuat masyarakat kelaparan dan kemelaratan yang cukup panjang dan sangat menyengsarakan masyarakat.Di kawasan Gunung Tambora terdapat tiga kerajaan yang berhubungan langsung dengan dampak dari letusan gunung tambora dan mengalami perubahan yang sangat drastis ketika terjadi letusan Gunung Tambora pada awal bulan April tahun 1815.
Hampir semua penghuni di tiga kerajaan tersebut tewas. Hanya beberapa orang saja berhasil selamat. Padahal, lokasi ketiga kerajaan itu tadinya sudah diusahakan cukup aman dari dampak letusan gunung api, tetapi dengan kedahayatan dari letusan gunung tambora mampu melululantahkan 3 kerajaan tersebut.
1. Kerajaan sanggar
Kerajaan Sanggar teletak di sebelah barat laut Dompu, sebelah timur kaki Gunung Tambora. Pada awal abad XIX sebelum Gunung Tambora penduduknya berjumlah 2000 jiwa pada tahun 1808, dan pada tahun 1815 sebelum gunung tambora meletus meningkat menjadi dua ribu dua ratus jiwa, dan ketika Gunung Tambora meletus bulan April 1815 sebagian besar penduduknya meninggal, tersisa dua ratus orang.
Sebagian kecil masyarakat yang selamat dari letusan Gunung Tambora melarikan diri atau meminta perlindungan dari masyarakat Bangu yang merupakan bagian dari Kerajaan Dompu, dan sebagianya lagi ke Gembe yang merupakan bagian dari Kerajaan Bima.
Pada tahun 1830 dengan bantuan pemerintah kerajaan Bima mereka kembali ke kampung mereka, dan pada tahun 1837 penduduk dari Kerajaan Sanggar masih berjumlah tiga ratus lima puluh jiwa, mereka mulai membangun dan mengerjakan tempat tinggalnya dengan cara gotong royong
.
2. Kerajaan Tambora
Kerajaan Tambora berada ditiga penjuru yang dibatasi oleh laut. Disebelah barat berbatasan dengan Sanggar dan Dompu dengan luas areal 459 pal persegi, seluruh kerajaan berada di daerah Gunung Tambora (Gunung Arun), keadaan masyarakat sebelum Gunung Tambora meletus sudah mengalami kekurangan air, untuk mendapatkan air minum masyarakat harus menggali sumur dekat pantai.
Masyarakat Tambora hidup dari berladang, beternak dan meramu,ladang-ladang yang sudah ditanami cukup dilembabi oleh embun dan arena itu masyarakat bertanam pada bulan Agustus dan panen pada bulan Agustus sebab masyarakat pada saat itu menderita kekurangan air, bahkan untuk mendapatkan air masyarakat harus menggalli sumur di dekat-dekat pantai untuk mendapatkan air.
Menurut TOBIES pada tahun 1808 kerajaan Tambora berpenduduk empat ribu jiwa dan pada tahun 1815 sesaat sebelum Gunung Tambora meletus penduduknya meningkat menjadi delapan ribu jiwa, ketika Gunung Tambora meletus pada tahun 1815 korban yang meninggal sebanyak tiga puluh jiwa, dan tahun 1816 penduduk yang tersisa semuanya meninggal akibat dilanda banjir lahar, kemudian bekas wilayah tersebut masuk kedalam wilayah kesultanan Dompu.
3. Kerajaan Pekat
Mengenai Kerajaan Pekat tidak banyak yang tahu secara pasti jumlah penduduk dan jumlah korban meletusnya Gunung Tambora, Kerajaan Pekat adalah suatu kerajaan kecil yang mempunyai hubungan baik dengan VOC,tetapi akibat letusanGunung Tambora pada bulan April tahun 1815 penduduknya musnah semua dan bekas wilayahnya dimasukkan kedalam wilayah kerajaan Dompu.
d) Dampak dari meletusnya Gunung Tambora
Gunung Tambora adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia.Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index.Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan Danau Taupo pada tahun 1815.Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000-12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut.Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi.Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia.Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagaitahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini.Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.
Meletusnya Gunung Tambora tahu 1815 dengan begitu dahsyatnya sangat berpengaruh sekali bagi kehidupan masyarakat saat itu yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang sangat banyak. Korban jiwa dari letusan Gunung Tambora tidak hanya terdapat di Bima atau lebih khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Tambora, tetapi banyak juga terdapat di daerah-daerah lain seperti Lombok dan Sumbawa yang di sebabkan langsung oleh letusan gunung dan sebagiannya lagi disebabkan secara tidak langsung, seperti ada juga yang terkena penyakit dan kelaparan.
Jumlah korban manusia yang langsung disebabkan oleh letusan gunung tambora 10.000 orang, akibat letusan juga jatuh banyak korban karena kelaparan dan penyakit yakni 38.000 di Sumbawa dan 44.000 orang di Lombok jadi korban seluruhnya 92.000 orang.
Letusan Tambora juga menghancurkan lahan-lahan pertanian bagi masyarakat serta hewan-hewan ternak, dimana lahan-lahan pertanian yang semula sangat subur berubah menjadi lahan-lahan yang sama sekali tidak bisa ditanami dengan apapun, demikian juga dengan hewan-hewan ternak di samping mati pada saat gunung meletus dan sebagianya mati karena kelaparan dan tidak ada satupun yang bisa dimakan.Banyak tanaman budidaya hancur dan gagal panen,partikel-partikel abu itu dalam jangka waktu lama masih berada di atmofer dengan ketinggian 10 – 30 km. Akibatnya, siklus iklim menjadi tak menentu dan petani pun tidak bisa memanen tanaman budidayanya.
Disamping dampak yang bagi masyarakat Bima khususnya masyarakat yang bermukim disekitar gunung, tetapi banyak daerah yang merasakan dampak dari letusan gunung tersebut seperti Pulau Bangka, Bengkulu, Surabaya, Besuki, Pulau Madura, dampak yang ditimbulkan seperti adanya gempa bumi, suara dari letusan gunung tambora, terjadinya gelombang pasang, dan asap abu yang sangat tebal.
Pada tanggal 10 dan 11 April 1815 detuman letusan paroksisma ini terdengar sampai Pulau Bangka (1500 km) dan Bengkulu (1775 km), gempa bumi yang terjadi bersamaan dengan letusan tersebut terasa sampai Surabaya (600 km), di Besuki gelombang pasang sampai 6 kaki tingginya. Asap abu yang sangat tebal dan banyak sehingga Pulau Madura (500 km) seluruhnya gelap sampai 3 hari.
Disamping dampak yang ditimbulkan dari meletusnya Gunung Tambora yang mendatangkan kerugian bagi makhluk hidup khususnya manusia, terdapat pula keuntungannya seperti yang dapat kita lihat sekaran pada Gunung Tambora, dari hasil letusan tahun 1815 sekarang gunung tambora menjadi salah satu tempat wisata bagi masyarakat khususnya masyarakat Bima yang mempunyai daya tarik tersendiri.
Dari hasil letusannya, terbukti adanya beberapa tanaman budidaya dengan membentuk cagar alam tepat di sebelah barat Gunung Tambora seluas 10.000 hektar yang di jadikan cagar alam dengan nama Cagar Alam Duabanga.
Puncak Tambora juga menampilkan panorama yang menakjubkan, puncak Tambora menyapu sampai berbatas lekung langit,kemudian dengan ketinggian 1.800 meter terbentang dalam pelukan tebing kaldera yang terjal hampir tegak lurus, di bagian lain kita mampu melihat dari keseluruhan pulau Sumbawa dengan teluk saleh dan beberapa pulau kecil sepertiMoyo dan Satonda sampai ke Lombok dengan puncak Rinjaninya yang kokoh. Di ujung lain kita dapat lihat Laut Flores.
Dalam pendakian Gunung Tambora bisa dibilang memikat karena dalam pendakian melewati hutan primer Kalanggo yang rapat dan berukuran raksasa, kemudian kita menapaki hutan palma dan rota, menelusuri kawah gersang berupa pasir dan bebatuan kering gersang.
e) Akibat erupsi dahsyat
Erupsi diiringi halilintar sambung-menyambung, bunyinyamenggelegar bagaikan ledakan bom atom, terdengar hingga ratusan kilometer. Sir Stamford Raffles, pendiri Singapura modern, mengira bunyi memekakan telinga itu berasal dari meriam.
Vulkanolog dari Cambridge University, Clive Oppenheimer dalam bukunya “Eruptions that Shook the World” memperkirakan, 60.000-120.000 nyawa terenggut, baik secara langsung oleh awan panas,tsunami maupun tak langsung, akibat kelaparan dan wabah penyakit yang berjangkit berbulan-bulan kemudian.
Kabar pertama meletusnya Tambora mencapai Inggris pada November 1815. Media The Times mempublikasikan secarik surat dari seorang pedagang di Hindia Belanda. "Kita baru mengalami letusan paling luar biasa yang mungkin belum pernah terjadi di manapun di muka Bumi," tulis dia, seperti dimuat situs sains, NewScientist.
Lautan sejauh mata memandang dipenuhi batang pohon, batu yang mengapung, juga jasad manusia gembung, yang menghalangi laju kapal.Dua hari setelah letusan dahsyat, Sumbawa gelap gulita. "Tanaman padi sama sekali rusak, tak ada yang tersisa. Manusia dalam jumlah besar tewas seketika, lainnya meregang nyawa setiap harinya."
Erupsi Tambora juga berdampak global. Abu dan panas sulfur dioksida menyembur melubangi atmosfer, suhu rata-rata global merosot 2 derajat Celcius atau sekitar 3 derajat Fahrenheit.
Di belahan dunia lain, efek Tambora juga merenggut ribuan nyawa. Bukan karena letusannya, melainkan akibat epidemi tifus dan kelaparan merata di wilayah Eropa. Rusuh tak terelakkan, rumah-rumah dan toko dibakar dan dijarah.
Badai salju melanda New England Juli tahun itu, panen gagal. Eropa pun mengalami kondisi yang sama parahnya. "Bahan makanan berkurang, orang-orang terpaksa makan kucing dan tikus. Warga Eropa dan sisi timur Amerika Utara mengalami kesulitan tak terbayangkan," kata Stephen Self, profesor ilmu bumi dan planet di University of California, Berkeley, seperti dimuat situs Imperial Valley News.
LetusanGunung Tambora (Public Domain).
Demikian pula di Yunan, Daratan Tiongkok, orang-orang terpaksa memakan tanah liat, karena cuaca yang buruk menggagalkan panen padi. Penyair Li Yuyang dalam puisinya mengisahkan tentang rumah-rumah yang tersapu banjir. Para orangtua terpaksa menjual anak-anak mereka, ditukar dengan sekantung gandum. Suami menyaksikan istri dan buah hatinya mati perlahan akibat kelaparan.
Tambora bahkan mengubah peta sejarah, 18 Juni 1815, cuaca buruk yang diakibatkan Tambora konon ikut membuat Napoleon Bonaparte kalah perang di Waterloo. Hari terpedih dalam sejarah gilang-gemilang Sang Kaisar Prancis.
Kegelapan yang menyelimuti Bumi menginspirasi novel-novel misteri legendaris misalnya, 'Darkness' atau 'Kegelapan' karya Lord Byron, 'The Vampir' atau 'Vampir' karya Dr John Palidori dan novel 'Frankenstein' karya Mary Shelley.
Pada tahun 2004, para ilmuwan menemukan sisa-sisa peradaban kuno dan kerangka dua orang dewasa yang terkubur abu Tambora di kedalaman 3 meter. Diduga, itu adalah sisa-sisa Kerajaan Tambora yang tragisnya 'diawetkan' oleh dampak letusan dahsyat itu.
Penemuan situs itu membuat Tambora punya kesamaan dengan letusan Gunung Vesuvius di abad ke-79 Masehi. Peradaban di Tambora lantas sebagai "Pompeii di Timur."
f) Efek dari Gunung Tambora
1. Lelehan lava panas dengan batu berterbangan ke langit bersama gas mematikan telah
menewaskan sekitar 17.000 orang. Berikutnya, 400 juta ton gas sulfur menguasai langit
hingga jauh di atas awan mencapai 27 mil ke strastofer, debu tebalnya bahkan telah
menyelimuti Pulau Bali dan mematikan vegetasinya.
2. Letusan Gunung Tambora itu terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar, danTernatesejauh 2.600 km.
3. Saking tebalnya abu-abu yang berterbangan di langit, sepanjang daerah dengan radius 600km dari gunung tersebut terlihat gelap gulita selama dua hari. Dikarenakan sinar matahari takmampu menembus tebalnya abu-abu tadi.
4. Abu dan debu Tambora melayang dan menyebar mengelilingi dunia, menyobek lapisantipis ozon, menetap di lapisan troposfer selama beberapa tahun kemudian turun melalui angindan hujan ke Bumi. Hujan tanpa henti selama delapan minggu memicu epidemi tifus yangmenewaskan 65.000 orang di Inggris.
5. Satu tahun berikutnya (1816), sering disebut sebagai tahun tanpa musim panas karena
perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari
letusan Tambora ini.Letusan ini telah menimbulkan anomali temperatur global, hingga temperatur turun sekitar tiga derajat celcius (pendinginan global).
6. Terjadi gagal panen di China, Eropa, dan Irlandia. Bahkan terjadi tragedi kelaparan diPerancis yang menyulut kerusuhan di negeri itu.
7. Peneliti yang menghabiskan berapa bulan studi di Sumbawa pasca letusan, menyebutkan korban jiwa langsung letusan Tambora adalah 10.000 orang, ditambah 38.000 lainnya meninggal akibat kelaparan di Sumbawa dan 10.000 lainnya di pulau Lombok.
8. Letusan Tambora telah memusnahkan peradaban yang berada di sekitar gunung tersebut.Terdapat tiga kerajaan lokal yang hilang akibat letusan Tambora yaitu Sanggar, Tambora dan Pekat.
9. Bahan makanan berkurang, Warga Eropa dan sisi timur Amerika Utaraterpaksa makan kucing dan tikus.
BAB V : Kesimpulan dan Saran
Daftar Pustaka
G:\Geografi\Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan RI.html
G:\Geografi\Akibat Erupsi Dahsyat Tambora, Orang Eropa Terpaksa Makan Kucing - Global Liputan6.com.html
G:\Geografi\Catatan Iptek_ 200 Tahun Letusan Tambora - 200 Tahun Tambora Menyapa Dunia.html
D:\Geografi\geografi lingkungan_ Pengaruh Erupsi Gunung Api terhadap Karstifikasi batuan.html
G:\Geografi\geografi lingkungan_ Gunung Tambora.html
G:\Geografi\Inilah Tujuh Fakta Letusan Tambora dan Dampaknya Bagi Dunia _ Mongabay.co.id.html
G:\Geografi\Letusan Gunung Eyjafjallajokull Vs Gunung Tambora, 1 10.000.htm
G:\Geografi\gunung tambora_ meletusnya gunung tambora 1815.html
G:\Geografi\Letusan Gunung Tambora 1815 - ANNEAHIRA.COM.html
G:\Geografi\Kedahsyatan Letusan Tambora Hanya Kalah oleh Gunung Ini.html
G:\Geografi\makalah Gunung Tambora.html
G:\Geografi\Misteri dan Kronologi Meletusnya Tambora, Tiga Kerajaan Lenyap Seketika! _ Mysterious Thing • Conspiracy • Controversy • UFO & Alien • Archeology • Science • Universe • • • • • • • • • • • •.html
G:\Geografi\Menelusuri jejak letusan Gunung Tambora dua abad lalu - BBC Indonesia.html
G:\Geografi\Sejarah Kelam Gunung Tambora.htm
G:\Geografi\Tambora Meletus Karena Seorang Arab Dibunuh.html
G:\Geografi\Penyebab Gunung Meletus dan Akibatnya IlmuGeografi.com.htm
Lampiran-Lampiran
Saturday, 26 November 2016
Subscribe to:
Comments (Atom)
Tingginya Angka Putus Sekolah Jadi Kendala Wajib Belajar 12 tahun
1. Pertanyaan : Mengapa faktor ekonomi dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya angka putus sekolah ? Jawaban : Faktor ekonomi serin...
-
PROPOSAL KEGIATAN PERTUNJUKAN MUSIK SMA NEGERI 1 GEMOLONG Tahun Ajaran 2016 / 2017 Assalamualaikum Wr. Wb. ...
-
ASSALAMUALAIKUM .... Allhamdullilahhh saya masih diberi nikmat kesehatan dari Allah swt, saya akan berbagi sedikit ilmu dari sa...
-
TUGAS MANDIRI 5.1 Nama peristiwa : Kerusakan moral bangsa Indonesia Penyebab peristiwa : Cepatnya arus globalisasi berimbas pada...
